Walaupun “Gagal” di Luar Negeri, Purna TKI Ini Berhasil Membuat Usaha di Desanya

Oleh Hana Nabila

Di sisi jalan utama Kabupaten Indramayu, Desa Bondan, tinggallah Warti, seorang pengusaha, pemilik toko jahit yang terbilang cukup sukses di usianya yang baru menginjak 31 tahun. Dia merupakan salah satu purna tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sempat bekerja di Taiwan, menjadi seorang perawat orang tua selama 4 tahun.

Pertemuan dengan Warti dan beberapa purna TKI lainnya ini dilakukan selama satu minggu penuh di 4 kabupaten di Jawa Barat oleh Tim Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dalam rangka membuat buku foto mengenai kisah purna TKI Indonesia yang membuka usaha selepas kembali dari luar negeri.

Kepulangan Warti ke tanah air bukan karena dirinya sudah tidak ingin melanjutkan kerja di Taiwan, melainkan karena dirinya “dideportasi” oleh pihak imigrasi karena kedapatan tidak memegang paspor saat pemeriksanaan (karena paspornya ditahan oleh agensi yang menaungi Warti). Namun, hal ini tidak membuat Warti berkecil hati.

Dengan berbekal Rp500.000 dari sisa pendapatan saat bekerja di Taiwan, Warti membeli papan nama untuk usahanya dan membeli kain untuk membuat kurang lebih 10 buah seragam sekolah. Alhasil, tetangga yang membeli hasil jahitan Warti menyukainya dan mereka menyebarkannya dari mulut-ke-mulut. Hanya dalam jangka waktu 4 bulan sejak April 2017, Warti sudah mampu menambah 4 buah mesin jahit dan membeli sebuah sepeda motor.

Alasan utama Warti merintis bisnis menjahit ini adalah karena bisnis ini belum pernah dijajaki oleh masyarakat di desanya. Hal ini membuat usaha Warti menjadi yang pertama sehingga semakin terkenal dan dibutuhkan di desanya. Menurutnya, dia akan bertahan dalam bisnis ini karena setiap orang pasti membutuhkan pakaian dan pakaian juga tidak memiliki waktu kadaluarsa.

“Saya rasa saya bisa bertahan dalam bisnis ini karena walaupun pemesanan pakaian hanya datang pada waktu tertentu, pakaian pasti dibutuhkan setiap saat oleh setiap orang,” jelas Warti.

Bukan hanya uang yang Warti dapatkan dari Taiwan, pengalaman dan pengetahuan baru yang ia dapatkan sangat penting dan bermanfaat bagi dirinya saat ini. Bekerja di Taiwan, menuntutnya menjadi pribadi yang lebih berani, pekerja keras, dan percaya diri serta mengajarkan Warti untuk menjadi lebih handal dalam komunikasi, sosialisasi, berbisnis, dan majemen waktu.

Bukan hanya uang yang Warti dapatkan dari Taiwan, pengalaman dan pengetahuan baru yang ia dapatkan sangat penting dan bermanfaat bagi dirinya saat ini.

“Jika saya tidak berangkat ke Taiwan, saya yakin bahwa saya tidak akan pernah menjadi pribadi yang berani dan kuat seperti saat ini dan tidak akan termotivasi untuk mendirikan usaha menjahit ini”.

Jadi, apakah kalian memiliki semangat yang sama dengan Warti untuk dapat mendirikan sebuah usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat walau pernah memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan?

 

Featured image: Angga Setyadi