Siapa yang Tersenyum dengan Harga Pangan yang Turun?

Oleh Hana Nabila

Asep, salah seorang pedagang sayuran di Pasar Blok A, Jakarta Selatan, gembira menyambut panen raya beberapa jenis sayuran, sebut saja aneka kelompok cabai, bawang putih, bawang merah, dan buncis. Kondisi ini membuat Asep membeli pasokan sayuran dari agen dengan harga yang lebih murah dibanding bulan kemarin. Tapi, turunnya harga dari agen tidak serta merta memberi keuntungan yang berlimpah bagi Asep maupun pedagang lain.

Kalau harga dari agen turun, harga jual ke konsumen juga pasti turun, jadi yah untung yang saya peroleh bisa dibilang segitu-segitu saja”, ujar Asep.

Berbeda dengan Cici, seorang ibu rumah tangga di daerah Jakarta Selatan. Cici sangat menyambut baik kondisi panen raya yang marak diberitakan oleh media. Kalau panen raya, kan pasokan melimpah, pasti harga murah, lumayan sisa uang belanjanya bisa saya pakai untuk hal lain yang tidak terduga”, ucap Cici.

Jadi, siapa yang paling diuntungkan ketika panen raya terjadi?

Mengacu pada Indeks Bu RT yang setiap bulannya dihimpun oleh Tim Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), harga makanan pokok di bulan Agustus 2017 mengalami penurunan dibanding bulan Juli. Hal ini dibuktikan dengan menurunnya nilai overspend (kelebihan bayar) yang dikeluarkan oleh setiap rumah tangga sebesar 33.2% dari Rp 551.437,85 menjadi Rp 368.363,4

Selain dampak dari panen raya, penurunan nilai overspend ini pun tidak lepas dari peran pemerintah. Aksi kontrol harga yang telah digalakkan semenjak bulan April 2017 dengan menerapkan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET), operasi pasar, penegakan hukum di sektor bahan pangan pokok, serta upaya pemerintah untuk menyediakan stok bahan pangan yang terkendali bisa dikatakan mampu menekan harga di pasaran sehingga harganya terbilang lebih stabil dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Berbagai kebijakan pemerintah yang bisa dibilang menguntungkan konsumen tidak serta merta menguntungkan petani. Di kala panen raya terjadi, petani merupakan kelompok masyarakat yang menjerit karena panen raya mengakibatkan pasokan melimpah dan membuat harga merosot. Hal ini bisa merugikan petani karena rendahnya harga beli tengkulak tidak mampu menutupi seluruh biaya produksi.

Langkah positif yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah memperbaiki tata niaga pangan. Demi mengatasi panjangnya rantai distribusi, pemerintah diharapkan dapat menjadi perpanjangan pangan dari produsen ke konsumen dengan cara menjembatani hubungan antara petani dengan industri sehingga tidak akan ada pelaku-pelaku curang yang mengisi kekosongan ini yang dapat mematikan dan menaikkan harga pangan, seperti tengkulak ataupun pedagang perantara.