Pak Yusuf: Petani Sekaligus Penemu

Oleh Eky Triwulan

Saat mendengar beras organik, pikiran saya pemasoknya adalah dari luar negeri. Lebih berkualitas, mahal dan sehat. Akan tetapi, pikiran itu hilang saat perjalanan saya dan tim riset ke Indramayu untuk meneliti kesejahteraan petani, mungkin saja berasnya berasal dari tanah air sendiri.

Sejauh mata kami memandang perjalanan ke Desa Mulyasari, sawah luas terbentang. Salah satunya adalah sawah milik Pak Yusuf, seorang petani asal desa setempat yang ditanami padi organik varietas baru yang mungkin belum banyak ditemui di pasaran.

Tak menyangka petani-petani Indonesia sungguh kreatif, tak hanya dari segi penggarapan sawah, tapi juga dalam menciptakan beras yang berkualitas. Hal ini dilakukan oleh Pak Yusuf. Sudah dua tahun ia menjadi petani beras organik. Seperti yang kita ketahui, untuk mendapat beras seperti ini prosesnya harus benar-benar alami tanpa bahan kimia sekalipun. Mulai dari pengairan sampai pemberantasan hama.

Untuk menghasilkan beras organik, ia menggunakan cara tradisional seperti melakukan filter air dengan menanam enceng gondok di dekat sumber pengairan. Untuk hama, ia menggunakan pestisida alami yang merupaka cara turun temurun dari keluarganya. Tanaman maja, daun limba, sereh dan bawang merah menjadi beberapa bahan yang ia sebutkan kepada kami. Untuk pupuk? Kotoran hewan, air tebu dan air kelapa jadi rahasianya.

Dari sekian varietas baru yang ia ciptakan, salah satu unggulannya adalah Bongi. Jenis ini merupakan perkawinan antara beras Pandan Wangi dan Kebo. Warnanya pun beraneka ragam, yang paling unik adalah beras hitam. Dari situ, ia mulai rajin mengembangkan varietas baru yang unggul dan tentunya memiliki nilai jual tinggi.

“Pemerintah harusnya ngasih ilmunya. Ibaratnya ngasih kailnya, jangan kasih ikan terus,” kata Pak Yusuf saat kami Tanya tentang bantuan pemerintah ke para petani.

Demi membantu dan menggenjot produksi petani beras, pemerintah memang rajin memberikan bantuan, mulai dari subsidi pupuk sampai asuransi. Akan tetapi untuk Pak Yusuf, bantuan terutama subsidi kurang tepat sasaran. Hal ini membuat petani kurang berinovasi. Menurutnya, lebih baik pemerintah memberikan ilmu-ilmu bercocok tanam dan pemasaran agar petani dapat mandiri dan kreatif demi bersaing menghasilkan beras yang berkualitas.

“Pemerintah harusnya ngasih ilmunya. Ibaratnya ngasih kailnya, jangan kasih ikan terus,” kata Pak Yusuf

Lalu bagaimana dengan keuntungannya? Secara kuantitas Pak Yusuf tidak bisa menghasilkan beras sebanyak petani beras non-organik. Petani yang menggunakan pestisida kimia memang mampu membantu petani menyelamatkan hasil produksi dari hama yang merusak. Hal ini terlihat dari penghasilan gabah mereka yang mencapai rata-rata 1 ton. Sedangkan Pak Yusuf hanya mampu menghasilkan rata-rata 800 kilogram per panen.

Namun begitu, Pak Yusuf ternyata lebih untung dibanding mereka. Biaya produksi sawah organik lebih rendah. Sebab, benih, pupuk, dan pestisida hasil ciptaan sendiri yang bersumber dari peternakan dan perkebunan miliknya. Untuk harga jual pun, harga jual beras organik dari petani mencapai Rp 14.000/kg, atau dua kali lipat dari beras biasa.

Jika pemerintah mendorong para petani untuk berinovasi dibanding mengejar produksi demi swasembada pangan, Indonesia sebenarnya bisa bersaing menjadi Negara penghasil beras dengan kualitas unggul yang secara segi ekonomi lebih tinggi dan lebih baik untuk kesehatan masyarakat.