Ketika Kuota Tidak Berdaya

Oleh Endy Gupta

Sore itu, Pak Hadi menjemput Ibu Rini di pasar. Sebagai tukang becak langganan, Pak Hadi pun seperti biasa mengajak Ibu Rini mengobrol selama perjalanan.

“Bu, tumben belanjanya sedikit?,” tanya Pak Hadi.

“Iya Pak, habis Lebaran begini ternyata harga masih pada mahal, apa lagi daging sapi. Dari bulan Maret kemarin sampai sekarang masih diatas 110 ribu per kilo. Padahal kata Pemerintah, harga daging sapi Lebaran ini bakal jadi 80 ribu per kilo. Kata sodara saya yang jadi kerja di Malaysia, harga daging sapi di sana cuma 80 ribuan kalau dirupiahin,” jawab Bu Rini.

“Sekarang mau gak mau saya kalo belanja dikurangin, biar uang saya gak habis dan masih bisa bayar ongkos Bapak,” lanjutnya setengah bercanda.

Permasalahan seperti ini memang menjadi masalah klise setiap tahunnya, karena target harga yang ditetapkan pemerintah kerap tidak tercapai. Seperti yang terjadi di tahun ini, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah untuk daging sapi sebesar Rp80.000/kg. Ternyata harganya di pertengahan Juli 2017 secara rata-rata nasional sudah melonjak hingga Rp 116.421/kg seperti yang dicatat oleh Kementerian Perdagangan.

Permasalahan seperti ini memang menjadi masalah klise setiap tahunnya, karena target harga yang ditetapkan pemerintah kerap tidak tercapai.

Salah satu faktornya adalah adanya pembatasan kuota impor daging sapi oleh pemerintah. Tujuan dari pemerintah tentu baik untuk melindungi para produsen lokal. Tetapi, adanya pembatasan dan gagalnya produsen lokal untuk memenuhi angka permintaan dipasaran mengakibatkan naiknya harga karena angka penawaran (stok) yang tidak sebanding dengan permintaan di pasar.

Menurut Kementerian Pertanian, permintaan akan daging naik sebesar 10%, dan tetap membatasi kuota impor.

Sayangnya, asumsi tersebut ternyata tidak akurat karena pertumbuhan konsumsi daging sapi di semester pertama tahun ini mencapai angka 15%-17%, khususnya di Jakarta dan Jawa Barat. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kurangnya ketersediaan daging sapi di pasaran jika dibandingkan dengan tingkat permintaannya, sehingga harganya pun menjadi semakin tinggi.

Maka dari itu, pemerintah seharusnya meninjau kembali kebijakan kuota impor yang tidak efektif, dan menggantikannya dengan kebijakan yang mendukung terbentuknya harga melalui mekanisme pasar yang lebih alami. Dengan lebih mudahnya daging sapi dari luar negeri untuk masuk ke Indonesia, maka permintaan pasar pun akan lebih mudah untuk dipenuhi. Jika hal ini terjadi, maka para konsumen seperti Ibu Rini pun tidak perlu lagi mengeluh soal harga daging sapi ke tukang becak langganannya.