Inovasi Belajar Generasi Digital

Oleh Lulu Fakhriyah

Ketika berbicara tentang perkembangan teknologi informasi, manusia dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu generasi Digital Native dan Digital Immigrant. Kedua istilah yang dikemukakan oleh Marc Prensky, penulis asal Amerika Serikat ini merujuk pada mereka yang terlahir ketika teknologi digital telah berkembang dan fasih dalam menggunakannya serta mereka yang terlahir sebelum masa tersebut dan masih harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

Peran teknologi digital dalam menciptakan inovasi di dunia pendidikan baru mulai terasa sejak kemunculan Massive Open Online Courses (MOOC) atau Kursus Daring Masif Terbuka. Sebelumnya, Akademisi dan pemerhati dunia pendidikan, Ken Robinson menyatakan bahwa sejak 500 tahun terakhir perubahan signifikan dalam dunia pendidikan hanyalah eksistensi buku pelajaran. MOOC mulai populer ketika kampus superti Harvard, MIT, dan Stanford memperkenalkan edX dan Coursera. Sejak tahun 2012, edX mampu menarik lebih dari 3 juta partisipan dari seluruh dunia dan lebih dari dua juta orang yang berpartisipasi aktif dalam kursus.

Di Indonesia MOOC masih belum terlalu menarik perhatian para pengguna internet. Di pertengahan tahun 2016 beberapa situs yang menyediakan kursus daring seperti FOCUS Fisipol UGM atau MOOCs Universitas Terbuka baru meraih puluhan ribu kunjungan, sementara IndonesiaX meraih 140 ribu kunjungan.

MOOC berpeluang besar untuk dapat berkembang di Indonesia dan membantu generasi digital untuk merasakan sistem belajar seperti di perguruan tinggi.

Sebenarnya, MOOC berpeluang besar untuk dapat berkembang di Indonesia dan membantu generasi digital untuk merasakan sistem belajar seperti di perguruan tinggi. Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development, masyarakat Indonesia yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi hanya 8%, angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Amerika Serikat (44%) dan Jerman (27%). Teknologi digital khususnya telepon pintar dapat menjadi pilihan yang baik untuk mempermudah akses pendidikan di Indonesia, mengingat masyarakat Indonesia bertempat tinggal di lebih dari 6000 pulau. Jumlah pengguna telepon pintar di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat dari 52 juta menjadi 87 juta di tahun 2017. Fakta tersebut menjadi kesempatan yang baik bagi MOOC yang juga dapat diakses melalui aplikasi di telepon pintar.

Saat ini, CIPS sedang mengembangkan MOOC yang menyediakan pembelajaran mengenai pangan di Indonesia dengan empat topik utama seperti Agrikultur Indonesia, Rantai Nilai Regional, Politik Ekonomi Agrikultur Indonesia dan Konsumsi Domestik. Kursus ini akan disampaikan oleh Arianto Patunru, fellow di  Australian National University dan Yose Rizal Damuri, Kepala Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies. Kursus ini mulai dapat diakses pada pertengahan bulan Juli mendatang.