Harus Ada Lebih Banyak Universitas di Indonesia yang Berpartisipasi dalam MOOC

Oleh Lulu Fakhriyah

Dari Hong Kong hingga Australia, dari mahasiswa hingga para praktisi telah merasakan kemudahan belajar secara daring atau online. Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem pendidikan tradisional di tingkat universitas yang sudah sejak lama kita jalani memang masih dibutuhkan. Ada banyak akademisi yang meyakini bahwa interaksi langsung antara mahasiswa dan dosen ataupun antar mahasiswa dapat membantu proses belajar.

Akan tetapi, ada banyak pula orang yang mengikuti Massive Open Online Course (MOOC) atau Kursus Daring Masif Terbuka yang beranggapan bahwa belajar secara daring melalui video lebih membantu mereka dalam menyerap informasi yang disampaikan, alih-alih duduk di dalam kelas dan mendengarkan kuliah dari dosen.

Pada dasarnya keberadaan MOOC bukan untuk menggantikan sistem belajar tradisional yang sudah ada, tetapi untuk saling melengkapi, begitulah kata Dr. Masato Kajimoto dari University of Hongkong. Menurut hasil observasinya sebagai pengajar MOOC Making Sense of News milik University of Hongkong, 76% pelajar yang mengikuti MOOC lebih mampu mengatur waktu belajarnya dengan baik. Para mahasiswa merasa bahwa penjelasan singkat melalui video membuat konsep belajar mudah dipahami.

Sebanyak 87% mahasiswa merasa bahwa mereka memperoleh pengetahuan lebih banyak dengan belajar melalui MOOC daripada belajar di kampus.

Lain hal nya dengan pengalaman yang dirasakan oleh para mahasiswa di Australian National University. Sebanyak 87% mahasiswa merasa bahwa mereka memperoleh pengetahuan lebih banyak dengan belajar melalui MOOC daripada belajar di kampus.

 Lalu bagaimana dengan pengalaman yang dirasakan oleh mahasiswa di Indonesia?

Fenomena MOOC yang masih belum menjangkau banyak masyarakat membuat tidak banyak universitas di Indonesia yang memproduksi MOOC mereka sendiri seperti yang dilakukan oleh ratusan universitas lainnya di dunia. Oleh karena itu, fleksibilitas dan kesempatan untuk belajar mandiri yang kita temukan saat bergabung dalam sebuah MOOC masih belum dirasakan oleh banyak mahasiswa.

Meski sudah banyak mahasiswa Indonesia yang sering kali merekam dosen yang mengajar di kelas agar mereka dapat mengulang kembali materi yang dijelaskan, masih ada pula mahasiswa menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas untuk mencatat materi presentasi dosen alih-alih mencerna dan memahami inti materi yang disampaikan.

Dengan metode belajar menggunakan video yang khusus dirancang untuk menyampaikan hal-hal yang sifatnya akademis agar dapat dengan mudah dipahami, MOOC memungkinkan pelajar untuk mempercepat ataupun mengulang video belajar. Selain itu, mereka pun memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan pelajar lain dari berbagai latar belakang melalui forum diskusi yang ada. Pelajar memang dituntut untuk belajar mandiri, memahami materi dan mendiskusikannya kembali dengan pelajar lainnya. Kesempatan belajar seperti ini dapat kalian rasakan langsung dalam MOOC yang dikembangkan oleh CIPS, yaitu Perdagangan Pangan di Indonesia.

Melalui kursus Perdagangan Pangan di Indonesia, CIPS mencoba menjalin kerja sama dengan berbagai universitas di bagian barat hingga bagian timur Indonesia. Pada semester ganjil ini, kursus Perdagangan Pangan di Indonesia akan menjadi materi penunjang dalam salah satu mata kuliah yang harus diikuti oleh mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya.

Melalui kursus Perdagangan Pangan di Indonesia, CIPS mencoba menjalin kerja sama dengan berbagai universitas di bagian barat hingga bagian timur Indonesia.

CIPS berharap akan ada lebih banyak lagi universitas yang bekerja sama untuk menghadirkan pengalaman belajar di era digital bagi para mahasiswa sehingga mereka dapat merasakan manfaat integrasi sistem belajar daring dengan sistem belajar tradisional di tingkat universitas.