Forum Pertanian Dunia 2017 | Singapura dan Ketahanan Pangan

Oleh Ong Keng Yong

Artikel ini merupakan hasil penerjemahan dari artikel yang ditulis oleh Ong Keng Yong dengan judul Singapore and Food Security yang diterbitkan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapore sebagaimana diterbitkan dalam RSIS Commentary No. 127, tanggal 30 Juni 2017. Artikel asli dapat diakses melalui tautan ini.

Sinopsis

Ketahanan pangan dapat diperkuat oleh berbagai kebijakan strategis. Negara dengan jumlah lahan yang terbatas dapat tetap memajukan sektor pertaniannya dengan menerapkan kebijakan yang efektif. Singapura telah belajar untuk mengatasi berbagai bentuk permasalahan ketahanan pangan dengan melakukan perencanaan yang baik, penggunaan sumber daya yang efisien, dan menentukan visi masa depan yang jelas.

Penjelasan

Beberapa pengamat menyatakan kekhawatirannya mengenai ketersediaan pangan bagi populasi dunia – diperkirakan akan mencapai 9,7 milyar orang pada tahun 2050 –di mana persediaan yang ada diprediksi tidak dapat memenuhi jumlah kebutuhan. Sementara itu, sejumlah pengamat lainnya menyangkal hal tersebut dengan argumen bahwa hingga saat ini total makanan yang diproduksi melebihi jumlah yang sesungguhnya dikonsumsi dan dibutuhkan. Terlepas dari kedua pendapat tersebut, masalah kelaparan masih kerap terjadi di banyak wilayah di Asia dan Afrika. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya mengenai jumlah yang mencukupi, melainkan juga bagaimana menyediakan akses fisik dan ekonomi terhadap pangan.

Singapura memiliki kisah yang erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Singapura tidak menanam maupun memproduksi mayoritas kebutuhan pangannya karena lahan yang terbatas. Oleh karena itu, Singapura mengimpor 90% kebutuhan pangannya dari negara lain. Meski demikian, mereka mampu mengelola ketersediaan pangannya dengan baik. Untuk sebuah negara yang tidak memiliki banyak lahan, Indeks Ketahanan Pangan Dunia yang dirilis oleh Economist Intelligence Unit menempatkan Singapura sebagai negara dengan ketahanan pangan terbaik di Asia, dan peringkat ketiga terbaik di dunia. Singapura mampu mengatasi keterbatasannya dan telah menunjukkan hasil yang mengagumkan dalam mencukupi kebutuhan pangan dan pertaniannya. Sebagai contoh, Singapura telah meningkatkan persentase swasembada sayur-mayurnya dari 7% pada tahun 2010 menjadi 12% saat ini. Selain itu, Singapura juga menjadi negara yang terdepan dalam hal teknologi dan inovasi produksi pangan. Bagaimana cara Singapura mencapainya? terdapat tiga hal penting yang patut menjadi perhatian.

Penghubung Utama dalam Perdagangan Pertanian Global

Kunci utama dari pertumbuhan perekonomian Singapura adalah penerapan pendekatan multi-aspek namun tetap terpadu dan konsisten. Hal ini memungkinkan negara tersebut untuk menjaga relevansinya dan terlibat aktif dalam ekonomi global, di mana Singapura selalu merujuk pada pentingnya perubahan dan adaptasi terhadap masa depan. Fokus utama mereka adalah bagaimana memaksimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia dan melakukan inovasi terhadap kebijakan publik apabila diperlukan. Pendidikan bagi masyarakat pun disusun sedemikian rupa guna memperoleh dukungan mereka dan mendorong munculnya berbagai kegiatan wirausaha.

Sejak kemerdekaannya, Singapura telah melakukan berbagai upaya untuk menjadi penghubung (hub) utama bagi perdagangan dan transaksi komersial di tingkat regional. Mereka telah membangun dan mengembangkan berbabagi infrastruktur seperti jalan raya dan pelabuhan guna menarik minat para investor secara berkelanjutan. Secara strategis, Singapura memiliki berbagai kebijakan dan paket-paket insentif untuk mempertahankan daya saing ekonominya secara serta untuk menjaga perannya sebagai pusat kegiatan bisnis, keuangan, dan transportasi di Asia.

Fungsi tradisional Singapura sebagai area penghubung antar pelaku usaha telah mengundang banyak perusahaan di Asia Tenggara dan dunia ke republik kepulauan ini. Dari tahun ke tahun, meskipun tidak memiliki sektor pertanian, Singapura menguasai 20% perdagangan dari komoditas pertanian dunia. Dengan jaringan konsumen dan produsennya yang luas, Singapura kini menjadi mata rantai yang penting dalam aktivitas perdagangan regional maupun global untuk produk-produk pertanian.

Tanpa adanya tanda untuk memperlambat diri, Singapura berencana untuk memperkuat perannya sebagai kunci dalam perdagangan produk-produk pangan dan pertanian. Rencana ini berkisar pada ekosistem bisnisnya di mana setiap aspek yang mendukung aktivitas perdagangannya dikembangkan secara efisien.

Memanfaatkan Teknologi

Periode dewasa ini, perilaku konsumsi, produksi, dan perdagangan produk-produk pangan telah berubah secara signifikan. Seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita negara-negara berkembang, konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam memperhatikan kualitas dan keamanan makanan mereka. Impor produk-produk pangan seperti daging dan serealia meningkat seiring dengan bertambahnya permintaan. Di sisi lain, perubahan iklim, urbanisasi, dan peningkatan jumlah penduduk menjadi ancaman yang menyebabkan berkurangnya produksi hasil-hasil pertanian dan mempengaruhi persediaan bahan pangan. Pada gilirannya, hal ini turut mengancam masa depan para petani kecil. Maka dari itu, kebijakan ketahanan pangan perlu ditinjau secara rutin.

Dalam upaya untuk menghadapi tantangan ini, dorongan untuk melakukan modernisasi dalam sektor pertanian semakin terasa. Di Singapura, kebijakan yang mendukung dan kolaborasi antar sektor diterapkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Dalam hal ini, Singapura telah menuai berbagai prestasi. Perusahaan lokal seperti Apollo Aquaculture, melalui inovasinya dalam pembudidayaan ikan melalui tanki bertumpuk dalam ruangan dan air yang diberikan kandungan khusus (treated water), telah berhasil meningkatkan panennya dan mengurangi kematian ikan akibat pemanasan global di laut lepas.

Beberapa perusahaan lain, seperti Panasonic dan Temasek Life Sciences Laboratory, menggunakan teknologi seperti pertanian vertikal dan optimalisasi suhu dan kelembaban dalam ruangan guna meningkatkan jumlah panen. Selain itu, pemanfaatan teknologi tersebut bahkan membuka peluang untuk dapat membudidayakan buah-buahan dan sayur-mayur yang sesungguhnya tidak berasal dari Singapura.

Singapura menyadari bahwa melakukan pengembangan teknologi di sektor pertanian sangatlah penting guna memperluas cakupan perdagangan produk pangan dan pertanian. Oleh karena itu, Singapura melakukan investasi dalam jumlah besar pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pangan. Salah satunya dengan membuka Program Ilmu dan Teknologi Pangan bersama dengan Pusat Teknologi Pangan di Nanyang Technological University. Salah satu misi program ini adalah mempelajari berbagai alternatif dalam hal pengayaan kandungan gizi dalam pangan (food treatment) serta pengukuran risiko bahayanya. Melalui program-program seperti ini, Singapura merintis jalan untuk menjadi pusat penghubung ilmu pengetahuan dalam mengembangkan cara-cara yang inovatif dan berkelanjutan dalam memproduksi bahan pangan dan berkontribusi pada pengembangan sektor pertanian.

Mengembangkan dan Memanfaatkan Talenta

Secara ekonomi, sektor pertanian tradisional memiliki peringkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Meski demikian, peningkatan dalam penggunaan teknologi baru dalam sektor pertanian dan bertumbuhnya level perdagangan komoditas di sektor ini telah membuka jalan bagi terciptanya kesempatan kerja pada tingkatan profesional.

Munculnya beberapa perusahaan besar yang bergerak di bidang pertanian di Singapura seperti Olam International, Cargill, Mosanto, dan Syngenta turut meningkatkan potensi terciptanya lapangan kerja di bidang transportasi,manajemen logistik, manajemen, keuangan, mikrobiologi, analisis data/statistik, dan lain-lain.

Setelah berhasil menarik sumber daya manusia dari negara lain sebagai bagian dari kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonominya, fokus yang ditekankan oleh Singapura saat ini adalah bagaimana memberdayakan sumber daya manusia dalam negerinya sehingga dapat memenuhi kebutuhan sektor pangan dan pertanian. Selain menawarkan perkuliahan dalam bidang tersebut di perguruan-perguruan tinggi, generasi yang lebih muda perlu didorong agar mereka tertarik untuk kelak meniti karir di bidang-bidang yang relevan dengan sektor pertanian dan pangan.

Bertambahnya kegiatan yang mengembangkan ekosistem Singapura dalam hal pertanian dan perdagangan pangan serta meningkatnya aktivitas yang mengangkat pencapaian Singapura dalam bidang tersebut turut memperbesar minat masyarakat Singapura dalam pekerjaan yang berkaitan dengan pertanian dan perdagangan. Hal ini juga akan mendorong mereka untuk mencari peluang-peluang usaha di bidang tersebut di mancanegara.

Sebagai kesimpulan, strategi ketahanan pangan Singapura menekankan pentingnya perdagangan, teknologi, dan pengembangan talenta sumber daya manusia melalui penerapan berbagai kebijakan seperti diversifikasi sumber bahan pangan, optimalisasi produksi pangan dalam negeri, dan membangun jaringan antar-sektor. Dalam upaya untuk memastikan ketersediaan pangan yang stabil dan berkelanjutan bagi rakyat Singapura, para pembuat kebijakan dan regulator memperhatikan beberapa hal. Hal tersebut meliputi kekuatan Singapura dalam bidang perdagangan, hubungan diplomatiknya yang harmonis dengan negara-negara lain, serta kondisi pembangunan nasional negara tersebut secara keseluruhan.

Maka dari itu, Singapura sangatlah cocok menjadi tuan rumah Konferensi Forum Pertanian Dunia 2017, di mana pertemuan yang diselenggarakan dua tahun sekali ini dihadiri oleh para pemimpin perusahaan, pembuat kebijakan, dan pakar-pakar pada sektor pertanian dan produksi pangan dari seluruh dunia. S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) juga menjadi tuan rumah dari acara yang diselenggarakan pada tanggal 6-7 Juli 2017 ini. Di samping Konferensi itu sendiri, juga diselenggarakan Youth Engagement Event – hasil kerjasama dengan Asosiasi Singapore’s Kranji Countryside – dimana para pakar yang tergabung dalam Konferensi membagikan pengetahuannya kepada pada pelajar di Singapura.

 

Ong Keng Yong adalah Wakil Kepala Eksekutif dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura. Artikel ini adalah bagian dari serial yang membahas Forum Pertanian Dunia 2017.