Adakah yang Mendengarkan?

Oleh Anthea Haryoko

Mengkomunikasikan ide secara efektif merupakan tantangan tersendiri bagi think-tank maupun lembaga riset. Sebagai think-tank, apa akibatnya jika kita tak dapat meyakinkan banyak orang untuk mendukung kebijakan kita?

Bayangkan jika kalian memberikan paper riset kebijakan dengan total 50 halaman ke kakekmu, bisakah ia memahami bagaimana kebijakan-kebijakan yang ada dalam paper tersebut memengaruhi kesehariannya? Saya yakin tidak bisa semudah itu.

Untuk menyampaikan ide, sangat penting untuk tahu siapa target kita. Mengetahui siapa mereka merupakan titik awal untuk menyesuaikan gaya bicara ke mereka dengan bahasa dan istilah yang mudah mereka pahami. Begitu banyak opini dan situasi berbeda yang mungkin timbul di khalayak ramai, jadi penting sekali untuk mengetahui bermacam-macam karakter mereka. Biasanya, karakter tersebut dibagi menjadi empat segmentasi – demografi, perilaku, sikap, dan psychographic.

Ketika sudah tahu karakter mereka yang ditargetkan, selanjutnya kita harus memahami masalah, kebutuhan, dan keinginan mereka – Apa yang menjadi masalah mereka? Apa yang mereka butuhkan sekarang untuk menyelesaikan masalahnya? Dan terakhir apa keinginan mereka?

Sebagai contoh, paper riset CIPS yang mengangkat tema tentang kebijakan perdagangan dan harga pangan. Butuh kemauan yang besar untuk membaca keseluruhan isi paper, terlebih lagi saat menemukan angka-angka dan perhitungan-perhitungan yang terlihat rumit dan teoritis.

Jadi bagaimana paper tersebut bisa menarik, misalnya, bagi ibu-ibu muda kelas menengah yang sebagian besar waktunya dihabiskan merawat anaknya yang masih kecil? Kemungkinan besar si ibu baru saja memiliki satu anak, sehingga keinginan utamanya adalah memberikan makanan berkualitas agar anaknya mendapatkan nutrisi yang tepat dan bisa tumbuh dengan sehat agar bisa berprestasi di sekolahnya. Dia membutuhkan pilihan makanan sehat di supermarket untuk memenuhinya. Tapi apa masalah yang dia hadapi? Harga makanan di supermarket terlalu mahal bagi uang belanja dia yang terbatas.

Kita bisa memulainya dengan menjelaskan kenapa dia tidak bisa mendapatkan jenis makanan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau untuk buah hatinya. Jelaskan bahwa pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang membuat semua ini sulit dan mahal untuk memperoleh jenis makanan yang ia butuhkan. Setelah kita mendapatkan perhatiannya, yakinkan dia untuk mendukung saran kebijakan publik yang kita buat.

Riset hanyalah setengah usaha dari kerja kita. Sisanya adalah mengerti bagaimana mengkomunikasikannya, dan mengajak target kita untuk mendukung ide-ide kita. Hanya dengan begitu ide kita dapat memberikan dampak yang besar.